Perempuan Tak Perlu dibela

Oleh : Alida Wahyuni Rusdy

(posted di Media Indonesia, 16 Sept 2006)

SEMBILAN cerita pendek dalam Buntelan (Q Publisher, Juli 2006), buku terbaru yang ditulis A Badri AQ T, memberi peluang bagi hadirnya dialog segar ten­tang tubuh, eksistensi perempuan, ataupun rela­si gender. Soal-soal ini jelas bukan barang baru dalam khazanah cerpen Indonesia. Terutama bila kita menimbang bahwa para penulis perempuan yang jumlahnya terus bertambah, semakin bera­ni menulis soal perempuan dan penyimpangan seksual, dengan semangat merontokkan domina­si kaum adam di wilayah kehidupan rumah tangga, juga di tengah masyarakat luas.

Nama-nama seperti Ayu Utami, Djenar Mae­sa Ayu, Mariana Amiruddin, Laksmi Pamunt­jak, Ucu Agustin, dan Maya Wulan merupakan nama-nama yang tidak asing dalam konteks ini. Di kalangan penulis lelaki, Badri juga bukan nama baru yang menunjukkan pemihakannya pada perempuan. Tapi lewat sembilan cerpen­nya dalam Buntelan, terlihat bagaimana ia tidak larut ke dalam slogan-slogan kosung bahwa pe­rempuan adalah jenis manusia vang haknva da­lam konstruksi sosialharusdibela habis-habisan. Badri justru menempatkan tokoh dalam ce­rita-ceritanya begitu rupa, sampai terpahami bah­wa lelaki selalu lemah menghadapi kenyataan hidupnya tanpa perempuan.

Dalam koteks ini, Badri secara implisit seperti ingin menegaskan bahwa kaum perempuan ti­dakperlu dibela habis-habisan oleh kaum lelaki, tetapi cukupmenjela,kan kenvataanhidup lelaki secara jujur. Ini saja sudah ~cukup menjawab, relasi perempuan dan lelaki merupakan relasi yang tidak bisa saling meniadakan satu sama lainnva. Seperti dalam cerpen Sepasang Bola Mata yang Ditinggalkan di Sisi Meja Rias. Dalam cerpen ini dikisahkan bagaimana Aku harus hidup pon­tang-panting mengurusi perkembangan dua anaknya, Santo dan Santi. Istriya yang pergi entah ke mana, hanya meninggalkan dua bola matanya seukuran gundu, menjadi satu pukul­an berat bagi Aku. Ia harus mampu membangun omong kosong di hadapan kedua anaknva yang terus tumbuh besar.

Maka sang Aku selalu saja berkisah bahwa sang Ibu sedang bekerja di Arab Saudi sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Ini mungkin sekadar alasan di hadapan anak yang mudah dikelabui. Tapi, bagaimana Aku sendiri bisa menuntaskan kesepian tanpa istrinya adalah hal yang bagi pengarang tak ada jawabannya. Tokoh Aku di sini selalu berurai air mata setip kali menatap dua bola mata istrinya. Kesepian terus menikam­nya, tanpa tahu ia harus berbuat apa selain ber­mimpi dan berbohong.

“Aku tak tahu, apakah barusan aku tidur atau tidak. Pikiran dan perasaanku benar-benar se­dang terbelah. Untuk menjaga keselarasan komu­nikasi dengan kedua anakku, perlahan aku ter­senyum sambil membuka kelopak mataku seper­ti orang sedang mengintip sesuatu. Kedua anak­ku melepas tawa dari kelucuan yang aku buat­buat.” (hlm.11)

Kelemahan lelaki lebih miris lagi dituliskan Badri secara ilustratif, seperti terjadi dalam cer­pen berjudul Matinya Elang di Ranggas Randu. Pertama-tama Badri mengilustrasikan lelaki la­yaknya burung elang yang terbang tinggi di angkasa dan nemplok di dahan pohon randu sambil menebar ancaman bagi mangsanya, ter­masuk burung pipit yang diilustrasikan di sini sebagai perempuan.

Namun dalam kisahnya, si Aku (burung pi­pit) yang berusia dua puluh tahun ini terus saja menimbang apakah ia harus menerima cinta lelaki berusia empat puluh dua tahun, mirip dengan usia bapaknya sendiri. Kisah cinta terus berjalan antara dua insan yang berjarak usia jauh ini. Lelaki tua terus memaksa agar bisa menikahi perempuan itu. Di sisi lain, sang perempuan belum mau me­mutuskan, sebab ia masih mau menjalani masa indah pacaran. Lelaki tua merasa kehabisan langkah. Perempuan muda tetap pada pendir­iannya. Hingga suatu ketika, secara ilustratif kita menjadi paham bahwa cinta bagi perem­puan tetap tidak bisa dipaksakan oleh sesuatu di luar dirinva. “Paginya aku terbangun. Kubuka jendela ka­mar, matahari menerpa dengan suasana keha­ngatan, dan bersamaan dengan itu hatiku berde­gup. Jarak pandang pertama yang selalu menga­rah pada tegar berdirinya pohon randu dengan rentangan dahan begitu indah bagi mata hatiku, kali ini kudapati meranggas tanpa kehijauan dedaunan lagi. Tidak seperti pagi-pagi sebelum­nya. Di dahan tak terlalu tinggi itulah, kudapati seekor burung elang mati kaku.” (hlm 65)

Lebih menarik lagi sebagaimana terlukis dalam cerpen berjudul Buntelan. Judul cerpen yang ke­mudian diangkat sebagai judul buku ini, me­mang tampak memiliki keunikan narasinya. Bisa dikatakan di sini, cerpen Buntelan terdiri dari tiga sudut pandang dan tersusun dalam komposi­si yang beraturan. Perspektif pertama dari Aku, dalam hal ini lelaki yang berhasil menerapkan strategi seksual­nya demi memuaskan nafsu sesaat. “Begitulah. Tanpa aku harus menunggu suara tokek, yang menghitung-hitung di suara akhir untuk melakukan atau tidak melakukan, tak kupedulikan lagi itu semua. Maka, sebagaimana yang kuingin­-ingini, sebegitu saja kupetik sari perempuan yang semalam tidur bersamaku. Aku tak peduli, apakah perempuan itu menikmati seperti apa yang kunikmati dalam petualangan asmara yang tak tertahankan lagi.” (hlm 29-30) Perspektif kedua dari Aku, dalam hal ini pe­rempuan yang dipetik sarinya namun melaku­kan pemberontakannya sendiri. “Begitu pun air mataku, air mata seorang perempuan yang menjerit hatinya, taklagi berfaedah keluar di sela-sela kelopak mataku. Lantas untuk apa bila lautan surgawiku ini hanya jadi impian lelaki nakal yang ingin menyalurkan hasrat-hasrat kelelaki­annya, lantaran aku mau tidur di sisimva.” (him 37-38) Perspektif ketiga dari Dia, narator yang berusa­ha menghamparkan dua perspektif berlawanan dari peristiwa persemaian cinta persetubuhan dan pemberontakan yang terjadi antara seorang lelaki dan seorang perempuan, yang sebelumnya telah dibebaskan membangun perspektifnya ma­sing-m asing.

Cerpen-cerpen yang ditulis Badri memang me­nampilkan tokoh-tokoh yang pada gilirannya me­nukik pada pencitraan perempuan modern. Kare­na itu, sosok perempuan yang tegar di atas lang­kahnya selalu terjadi di sana-sini. Tokoh-tokoh perempuan yang hadir dalam cer­pen-cerpen Badri, dengan kata lain, merupakan tokoh-tokoh yang sudah menganggap usang bah­wa kaum lelaki adalah golongan manusia yang harus selalu dipuja dan ditakuti. Sebaliknya, to­koh-tokoh cerpen di situ malah saling menginsyafi keniscayaan gender, agar dapat menerangi kehi­du.pan dunia ini dengan damai, cinta, dan saling pengertian.

Akhirnya, kaum lelaki tak perlu membela kaum perempuan, juga sebaliknya, bila hanya melahir­kan pahlawan kesiangan. Sebab bila kejujuran dan saling pengertian sudah terjadi antara kaum lelaki dan perempuan, kisah dominasi pun tak lagi ada. Penindasan berbasis gender pun usang dengan sendirinya.


 

Jelang Ramadhan

Jelang Ramadhan …
Harga minyak tanah naik..
Minyak tanah susah didapat..
Akhirnya rakyat kembali ke kayu bakar..

Jelang Ramadhan..
Tarif Tol naik..
Pemilik tanah ruas jalan Tol Pdk. Ranji belum diganti rugi
Tapi kok..Anggota DPR dapat fasilitas tol gratis ya?

Jelang Ramadhan…
Banyak kegiatan wisata malam ditutup..
(uppss…Sementara saja kok…atau ngumpet-ngumpet juga boleh..lach)

Jelang Ramadhan..
Pasti banyak razia minuman keras..
Razia Video Porno juga loch..
(Hari-hari lain kayaknya kurang gencar ya.. mmmh, tergantung seh..?)

Jelang Ramadhan..
Semakin banyak terungkap kasus obat palsu
(eh..ada Jamu terbuat dari semen putih loch..Wadduuhh)

Jelang Ramadhan..
Banyak iklan sirup di TV..
Banyak iklan kain sarung di TV ..
Banyak iklan pakaian didiskon… tapi gimana dengan minyak tanah?

Lagi-lagi minyak tanah..
Kasian sekali nasibmu..
Hargamu terus naik
Semakin sulit dijangkau kaum kecil
Semakin jauh dirimu dari kaum kecil
Sebentar lagi dirimu akan punah dari negeri Indonesia tercinta

Panggil Aku Kartini Saja

Tak perlu pakai Raden, tak perlu pakai Ajeng tapi..panggil Aku Kartini Saja. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya bung Pram yang amat menggetarkan. Tulisan Pramoedya tentang kartini mencoba menambahkan pandangan umum selama ini. Khalayak umum mengetahui, bahwa Kartini adalah anak Bupati Jepara. Seorang Pahlawan Nasional yang membuka jalan emansipasi perempuan. Karya Kartini ”Habislah Gelap Terbitlah Terang” yang diterjemahkan Armin Pane. Pandangan Pram tentang sosok Kartini sangat melebihi dari yang diketahui publik secara awam, Kartini ditinjau dan dinilai dalam rangka sejarah Indonesia, maupun dunia luar. Tulisan-tulisannya ditafsirkan sesuai dengan zamannya dimana kolonialisme mengalami keagungannya dan feodalisme di pulau jawa mempengaruhi segala aspek kehidupan.

Pada awal buku ini yang mengambil ancang-ancang sejarah Diponegoro, masa tanam paksa, dan masa politik etis. Sehingga tampak jelas melalui penggalian fakta sejarah mulai dari karya Kartini sendiri, tulisan tentang Kartini, bahan tentang politik, sosial ekonomi sejarah, dan sastra serta lainnya. Dan lahirlah sosok Kartini tak seperti kebanyakan anggapan orang, perempuan pejuang ningrat. Tetapi sebagai sosok ”pemberontak” sejati.

Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Dengan kata lain Kartini tidak hanya memberontak terhadap kolonialisme yang sedemikiann kejam mencengkram rakyat. Tetapi juga melawan budaya feodalistik.

Baca buku ini..kalau ingin semakin memahami makna perjuangan Kartini. setelah itu kita semakin akan memahami, bahwa ketika tanggal 21 april tidak hanya sekedar dirayakan dengan lomba memakai Busana Kebaya Nasional.

Bapak….kapan kita ketemu lagi?

Hidup ini adalah pilihan. salah satunya adalah menikah. kenapa kita menikah? dengan siapa kita menikah? dimana kita menikah? dan yang sering bikin BT ketika ditanya, KAPAN KAWIIIIINNN?? May ..be Yes… May be…NO….

UP..alias usia panik pasti masing-masing kita pernah melewatinya. termasuk saya. beberapa tahun lagi usiaku nyampe pada level 3..alias 30. dan pada level ini my big expectation adalah KAWIIIINNN euuuyyy…. diawal hari-hari ku dan aa ku udah bulat niatan mau menikah, bapak ku jatuh sakit. Stroke serangan ke-2. serangan pertama diawal Pebruari 2007. gak jauh setelah Ibuku juga baru keluar dari RS Fatmawati (10 hari ibu dirawat) juga gak jauh setelah selesai banjir besar yang juga mampir ke rumahku. sepertinya, banjir besar ini juga yang membuat Bapakku mikir berat sehingga membuat kondisi bapakku ngedrop. Glukosanya jauh dibawah normal dan bikin stroke juga jadi ikut2an nyerang Bapakku. Bapakku sangat hebat,punya semangat yang sangat tinggi untuk sembuh, sehingga dia bisa pulang cepat dari RS. setelah itu, kami para anak-anaknya sepakat untuk melakukan pshyco therapy untuk Bapak dirumah, karena Bapak orang yang kurang suka jalan-jalan.

Alhamdulillah, bapakku dalam waktu hanya sebulan sudah mampu melepas kursi roda. dia sudah mampu melaksanakan Ibadah dengan normal. Rutinitas Bapakku sudah bisa dilakuin lagi. mulai dari sebelum Subuh udah berangkat ke Masjid ditemani keponakanku, lalu keliling sekitar perumahan untuk melatih kelancaran kakinya. sepulang jalan pagi dia minum susu Diabetasol rasa coklat favoritnya, ditemani Ibuku sambil baca koran atau sesekali sambil berzikir pegang tasbih. selesai minum susu dia gak akan istirahat. tapi malahan menyiram pohon, sudah sering ditegur semua orang rumah agar gak usah ngelakuin itu semua, tapi tetep aja dia emang gak bisa diem. pernah juga sewaktu belum bisa berjalan, ditinggal sebentar Ibuku dia Jatuh. karena perasaan bapaku, dia udah bisa jalan. sehingga dia berdiri sendiri n nyoba melangkah.

Jumat, 06 Juli 2007. Bapakku muntah-muntah, sangat mendadak tanpa ada gejala apapun. tiba2 Bapakku ngedrop lagi. karena dia gak mau di bawa ke RS, maka kami merawat intensive dirumah. kebetulan Kakaku adalah perawat yang sudah punya izin merawat mandiri, ntah apa istilahnya. suasana kamar Bapak persis sekali seperti di RS. ada infus, ada alat tensi, ada alat Uap, ada Alat penyedot dahak, ada alat tes glukosa dll..

meski Sakit, bapakku gak pernah ninggalin shalat. gak henti-henti dia berzikir. Ibuku juga dengan ikhlas melepas semua aktivitas mengajar ngajinya, demi merawat Bapak. dan aku juga melepas semua aktifitasku. aku konsentrasi betul2 merawat Bapak. karena Bapak juga gak ngizinin aku kemana-mana, dia pengen ditemani ngobrol, meski bicaranya gak jelas, tapi kami anak-anaknya selalu meladeni obrolannya. dokter bilang, kegiatan ini memang harus dilakukan keluarga, agar penderita stroke cepat sembuh.

pada stroke ke-2 ini, Bapak sejak awal sudah seringkali bertingkah aneh. seakan-akan dia mau pergi jauh. sering bicara mau pergi. sering bicara agar anak-anaknya harus selalu damai. dan yang sering bikin aku nangis, adalah Pernikahanku gak boleh diundur lagi. hampir setiap hari dia mengingatkanku agar nggak mundurin waktu pernikahan. dia bilang begini “yun..nikah gak boleh diundur. tanggal 4 agustus Bapak pasti udah sembuh, Bapak pasti bisa duduk dipelaminan, tanggal 4 udah bagus banget, jangan diundur lagi..” setiap dia bikin pernyataan itu, aer mata ku pasti mengalir. dan alhasil setelah hampir 2 minggu dia berjuang melawan penyakitnya Allah menunjukkan jalan terbaik buatBapak.

Tanggal 24 Juli 07, sejak sholat subuh yang dipandu ama ibu, Bapak gak ada lagi suaranya. dia tidur sepanjang siang. ba’da zuhur baru aku sadar, ada yang aneh dengan tidur Bapak. Bapak tiba2 bangun tapi koma. semua kakakku ku telfon, tetangga, kerabat udah pada berkumpul. aku gak bisa berkata2 apapun. cuma bisa natapin, meluk, dan cium Bapak. adzan ashar berkumandang, Ajal Bapak juga datang. Innalillaahi wa innailaihi roojiun..selamat jalan pak.

tentang pernikahanku..ntahlah!!!! pastinya saat itu, aku hampa. dan saat ini..aku Rindu

Love…

Love will find u .. if u try